14 Mar 2014

STRATEGI DAN IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA DI PERGURUAN TINGGI

STRATEGI DAN IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA DI PERGURUAN TINGGI 

Penulis: Guru Besar Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, M.A. (Rektor UIN Alauddin 2 Periode 2002-2010)

All strong societies have a strong moral basis. Any study of the history of economic development shows the close relationship between moral and economic factors. Countries and groups that achieve successful development do so partly because they have an ethic that encourages the economic virtues of self-reliance, hard work, family and social responsibility, high savings, and honesty
               
        (James Dale Davidson & Lord William Rees-Mogg)

PENDAHULUAN

    Globalisasi adalah sebuah perkembangan proses peradaban yang tidak mau tidak, kita harus lalui bersama dengan segala dinamika yang membawa pengaruh dalam tata nilai berbangsa dan bernegara. Sejalan dengan perkembangan tersebut, akhirnya disadari bahwa negara dan bangsa Indonesia ansikh diperhadapkan pada suatu situasi pencarian dan penelusuran kembali karakternya, sebuah bangsa yang dulunya mempunyai karakter saling menghormati satu sama lain, terkenal lembut, malu berbuat penyimpangan, patuh pada aturan dst. Kini menjadi bangsa garang yang mudah marah, terkesan semakin marak melakukan kekerasan, serta mudah disulut. Perilaku masyarakat terkesan semakin tidak beretika dan tidak disiplin dan Nilai-nilai luhur budaya terkesan mengalami degradasi. Beberapa figur yang mestinya menjadi penuntun dan teladan hampir disemua lini dipertontonkan secara merata di berbagai media dan menjadikan rakyat nyaris tidak percaya siapa siapa lagi termasuk mungkin mahasiswa terhadap ”guru”nya dan atau pemimpinnya. Perilaku tersebut merupakan contoh-contoh yang mencerminkan rendah atau melemahnya karakter bangsa saat ini.
Di Amerika serikat dikenal adanya sistem pendidikan untuk dua tahun pertama S1 dengan sistem yang disebut Liberal Arts Education. System ini berupaya mendidik seseorang memiliki kapasitas pribadi yang bisa dikembangkan secara dinamis untuk menghadapi situasi yang berbeda-beda sejak dini. Tujuan akhir dari sistem ini adalah menjadikan mahasiswa terdidik atau“educated” dan dalam bahasa arab kurang lebih disebut “Mutsaqqaf”. Di Amerika Serikat sendiri mata kuliah “literature” misalnya dirancang untuk membangkitkan “daya hidup” dan etos kerja serta semangat belajar mahasiswa dengan menganalisis daya juang para figur serta ungkapan-ungkapan bijak dan literature mereka. Mata kuliah dimaksud tampak ada pada hampir setiap perguruan tinggi disamping mata kuliah dasar yang disusun. Sayangnya, Sistem diatas tampak cenderung menafyikan peranan pemilik sumber daya dan potensi yang maha Agung (transcendental epistemology). Tampak ada daya manusia yang agak tereduksi. Daya yang tereduksi dimaksud–sebagaimana akan dijelaskan nanti--adalah daya kalbu.
    Dunia pendidikan oleh karena itu, perlu fokus ke “process” dan bukan hanya “content”.  Bukan lagi kita berharap pada “apa”, tetapi kepada “siapa” dan “mengapa”. Oleh karena itu kepemimpinan pendidikan tidak bergantung pada keahlian saja tetapi juga pada kemampuan untuk menjadi fasilitator dinamisator dan ”guru”. Memang, sedianya mahasiswa tidak boleh dibuat passive, tetapi harus dibuat menjadi pembangkit dan penggerak aktifitas pendidikan ( generators). Kesalahan yang terjadi tidak boleh ditakuti, tapi harus dijadikan alat pembelajaran (learning tools). Kelas harus fleksibel dan tidak selamanya harus terprogram. Penekanan pada “kemampuan melakukan sesuatu” atau “creating jobs” dan bukan hanya mampu “berteori” .
    Oleh karena itu, pendidikan harus memberi kesempatan kepada pebelajar  untuk menerima, merespons, dan menginisiasi perubahan melalui inovasi dan rasa tanggungjawab dan membekali pebelajar dengan tantangan tantangan masa kini dan masa mendatang. Pendidikan harus membekali pebelajar dengan keterampilan keterampilan dan sikap yang dibutuhkan untuk menjadikan mereka orang yang baik, mencintai kebaikan dan melakukan yang baik baik, kreatif, produktif, berdikari, dan berjiwa mandiri dan inovatif.
    Tujuan pendidikan dimaksud adalah untuk mengasah dan menggali potensi paling dalam yang ada pada diri manusia, mendesiminasikan, meningkatkan, mengembangkan, menjewantahkan, melestarikan dan menerapkan nilai-nilai atau karakter agung nan mulia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
    Lebih khusus lagi, pendidikan dimaksud bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengendalikan emosi dan bersikap samahah (toleran) dan terbuka, bagaimana menanamkan nilai nilai kejujuran (honesty), loyalitas, dan integritas (integrity), dapat dipercaya (amanah.trusworthy), memperlakukkan orang lain dengan respek (respect), bertanggung jawab (responsible), adil (fair), serta peduli  dan kasih (caring), memiliki ciri manusia trampil (cultivating students’ practical skills), kreatif, kerja keras, bersemangat (cultivating students innovative spirit), mandiri, percaya diri, bijak, tekun, tegar, tertib, sadar hukum dan aturan, disiplin, damai, dan hormat, santun, suka menolong, dan baik serta rendah hati. Kesemua yang disebut di ataslah yang ingin dituju oleh pendidikan karakter.
    Untuk itu semuanya, perlu diciptakan lingkungan yang dibutuhkan, Peserta didik difasilitasi dengan pengalaman-pengalaman. Seterusnya, seluruh sumber harus digali, dan masyarakat pada umumnya termasuk masyarakat kampus khususnya secara keseluruhan dilibatkan sehingga tidak terjadi apa yang disebut oleh al-Bouty sebagai al mujtama’ al mutanaaqidh atau paradox society.

KAJIAN PUSTAKA

A.    Sumber Daya Manusia & Pembentukan karakter

Di dalam literatur-literatur Islam mengenai SDM dikenal dengan adanya empat sumber daya minimal yang ada pada diri manusia yang dapat dikembangkan; Daya fisik, daya pikir, daya, kalbu, dan daya hidup (semangat) .
Menurut Alquran, manusia diciptakan dari debu-tanah dan ruh. Tanah itu diolah sehingga melahirkan sosok manusia, setelah sosok manusia ini sempurna, Allah menghembuskan ruh Ilahi kepadanya. : “Fa iza sawwaituhu wa nafakhtu fihi min ruhi Faqa’uu lahu saajidiin.” “Kalau sudah sempurna kejadiannya dan ditiupkan ruh kepadanya, maka  wahai para Malaikat sujudlah”.
Debu tanah itulah yang menjadikan manusia memiliki fisik. Itu sebabnya kalau manusia mati dikembalikan ke tanah dan dia bercampur dengan tanah. Namun demikian, ada unsur lain yaitu, “ruh”. Ruh ada tiga sisinya, ada sisi yang dinamai sisi  “pikir” manusia dan ada sisi yang dinamai sisi “kalbu” yang membuat mereka mengenali Tuhannya dan dapat memberi manfaat buat sesamanya . Dan ada sisi yang disebut daya hidup, yaitu daya yang membuat mereka menjadi kreatif, inovatif, dan produktif.
Lebih khusus, daya kalbu apabila diasah bisa mengantar seseorang berhubungan dengan potensi Tuhan, bisa mengantar seseorang memiliki indra ke-enam, bisa menghasilkan suatu aktifitas, suatu kegiatan yang orang tidak percaya bahwa itu dapat terjadi.
Dalam al-Quran, Nabi Sulaiman duduk bersama stafnya. Kemudian Nabi Sulaiman berkata : “di Yaman sana, ada singgasana Ratu Balqis. “Siapa kira-kira yang bisa mendatangkan singgasana tersebut dari Yaman ke Palestina”, yang kira-kira kalau sekarang membutuhkan waktu sekitar 4 jam naik pesawat jet. Jin yang jenius “’Ifriitun mina al-Jinni”berkata : Ana Aatiika bihi qabla antaquuma min maqaamika.” “Singgasana tersebut bisa saya bawa kemari sebelum kamu  kembali ke rumah”. Rumah Nabi Sulaiman konon jaraknya memakan waktu dari sekitar jam 8 pagi sampai Dhuhur. Apa kata seorang manusia yang mengasah daya kalbunya. : “Ana Aatiika bihi qabla anyartadda ilaika Tharafuka.” “Sebelum matamu berkedip  singgasana itu sudah ada di hadapan kamu,” Teknologi apa yang dipakai ? Itulah daya kalbu (daya Tuhan terserap masuk ke daya hambanya yang mengasah daya kalbunya). Siapa yang mengasah daya kalbunya. menurut hadits riwayat Bukhari, Allah akan menganugrahkan kepadanya kemampuan sehingga mata yang digunakannya melihat adalah pandangan Tuhan, telinga yang dipergunakannya mendengar adalah pendengaran Tuhan, kaki yang digunakannya melangkah adalah kaki Tuhan. Itulah daya kalbu.
Dari daya kalbu ini, manusia dapat memiliki sumber daya yang begitu mengagumkan. Apa daya yang begitu menonjol dan paling dominan? Kita lihat sewaktu Allah s.w.t menyampaikan rencananya menciptakan Adam, malaikat bertanya atau “keberatan” “Ataj’alu fiha man yufsidu fiha wa yusfikuddima wa nahnu nusabbihu bihamdika ?” “Hai Tuhan Engkau menciptakan mahluk itu yang melakukan pertumpahan darah dan merusak di bumi padahal kami bertasbih kepadamu”. Tuhan menjawab :
 “Aku tahu apa yang kamu tidak ketahui”
Dibuktikan bahwa manusia lebih hebat dari pada malaikat “dalam konteks menjadi khalifah di muka bumi.” Apa kehebatannya? “ilmu pengetahuan” :
Sekali  lagi, kita disini berbeda dengan konsep dari Barat. Dalam al-Quran, ada ilmu yang diusahakan perolehannya dan ada ilmu yang dianugrahkan oleh Allah SWT. Kita bisa belajar, kita dapat ilmunya  tetapi ada cara lain untuk memperoleh ilmu. Imam Al-Gazali memberi contoh, ilmu diibaratkan air masuk ke dalam suatu wadah, wadah bagi manusia adalah kalbunya. Ada illustrasi yang menyatakan, kalau wadah itu kolam, maka bagaimana cara menjadikan kolam itu penuh. Caranya adalah mengalirkan air dari luar masuk ke kolam atau menimba air supaya kolamnya penuh. Air dari sungai dialirkan ke kolam, sehingga kolam itu penuh.
Cara yang kedua adalah menjadikan wadah itu seperti sumur. Air bukannya datang dari luar, tetapi digali sumurnya, sehingga memancar dari bawah air itu air yang lebih jernih yang datangnya dari dalam. Air tersebut sudah otomatis datang tiada henti-hentinya, sama dengan air zam-zam, tidak ada akhirnya. Ilmu yang dicari melalui upaya manusia itu seperti air dari luar masuk ke kolam. Tetapi kalau mau mendapat yang jernih dan terus-menerus ada, jadikan kalbu anda seperti sumur. Sumur (kalbu) harus dihilangkan tanah-tanahnya yang berbatu-batu (dengki, sombong, iri, fitnah, niat jelek, pikiran politik busuk, menuduh orang lain tanpa cek dst.), digali terus sampai menemukan mata airnya. Demikianlah gambaran yang dikemukakan oleh para pakar sufisme.
Ketiga daya di atas ditambah satu daya lagi, yaitu daya hidup. Ada orang pintar, ada orang mengasah kalbunya tapi dia tidak punya daya hidup. Daya hidup itu adalah semangat dan kreatifitas. Daya hidup itu yang menjadikan seseorang mampu untuk menghadapi tantangan, mampu bekerja keras, produktif, kreatif, proaktif, dan inovatif.
Empat daya pokok ini menghasilkan ratusan atau ribuan daya dalam diri manusia, Itu sebabnya ada hadis yang menyatakan : “ Inna al-Laha khalaqa Adam ‘ala suratihi.” Allah menciptakan Adam sesuai dengan petaNya. Dalam arti dia diberi potensi untuk berkemampuan yang dahsyat dengan cara meneladani sifat-sifat (daya) Tuhan. Takhallaq bi Akhlaqillah.
Dari sinilah timbul pikiran bagaimana menerapkan system yang compatible dengan liberal arts education yang sesuai dengan pengembangan empat sumber daya manusia menurut tuntunan Islam.
Dengan kata lain, berkaitan dengan usaha menuju keunggulan dalam bidang akademik dan karakter yang agung, perlu dimulai dengan minimal melakukan 1. pengembangan daya kalbu, akhlak, dan daya hidup mahasiswa melalui diantaranya materi “retorika kaum bijak” dan 2. pengembangan keterampilan bahasa asing dalam rangka meluaskan world view (pandangan dan pengetahuan luas) para mahasiswa dengan cara yang praktis, hidup tidak berbelit belit, serta menyenangkan.
Kedua hal ini minimal diharapakan dapat menjadi nilai kompetitif yang menjadikan seorang mahasiswa dapat mengungguli mahasiswa dari lembaga lainnya. Dengan hal pertama diharapkan mahasiswa tidak terkontaminasi pikirannya dengan hal-hal yang negatif  sementara dengan hal yang kedua diharapkan pikirannya tidak terkesan picik dan dangkal. Dan dari keduanya mahasiswa diharapkan mampu bersaing dan dapat hidup di tengah tengah masyarakat dengan peranan yang dapat diandalkan dan kelak  otomatis tidak menjadi beban bagi masyarakat itu sendiri.

B. Meng-asah Inner Capacity dalam rangka pembentukan karakter mulia

Adalah Coleman, penyusun kamus ”Dictionary of Psychology” yang mempopulerkan istilah ini. Peng-asah-an Inner Capacity adalah usaha pengembangan  kreatifitas, proaktifitas, (daya hidup dan kewirausahaan) inovasi, dan imajinasi  (daya pikir dan nalar serta daya kalbu) mahasiswa. Pengembangan Inner Capacity adalah pengembangan kemampuan yang tidak tangible (tidak observable) tidak mudah dideteksi (karena ia berasal dari ruh ilahi), namun secara nyata menjadi competence (kompetensi) (which is a capacity or ability (berupa kapasitas dan kemampuan)) yang efektif dan efisien untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu secara tuntas.
Inner capacity terlahir dari daya paling dalam dari diri manusia yang bersumber dari ruh Ilahi. Sementara ruh dalam diri manusia sebagaimana diungkap oleh Ikhwanushafa merupakan substansi yang naturnya spiritual (membakar semangat ruuhaniyyatun), celestial melangit tanpa batas/ borderless (samaawiyyatun), luminious bercahaya, tidak gelap hati dan perilakunya (nuuraniyyatun), living /hidup tidak mati tidak fatalis (hayyatun), and knowing/cerdas (allaamatun), potentially (bilquwwati), dan active (faalatun) . Hossen Naser menulis :” The goal of education is to enable the soul to actualize these potential possibilities, thereby perfecting it and preparing it for eternal life.  Tujuan pendidikan adalah membuat potensi potensi tersebut diatas dimungkinkan untuk aktif dan tidak tidur menuju  kesempurnaan untuk dipersiapkan buat menghadapi hidup yang abadi. Misi pengembangan program inner capacity adalah mendidik seseorang memiliki kapasitas pribadi yang bisa dikembangkan secara dinamis untuk mengahadapi situasi yang berbeda-beda. Program dimaksud diinkorporasikan dalam suatu program yang dirancang untuk mahasiswa baru selama dua semester. Program dimaksud harus berfungsi sebagai media untuk membantu mahasiswa memperkuat identitas pribadi, memberikan arahan hidup, meningkatkan kreatifitas, proaktifitas, dan imajinasi mahasiswa, meningkatkan ketaqwaan dan keimanan, meningkatkan kapasitas belajar dan membangun serta mengembangkan pengetahuan dan  kompetensi mereka masing-masing bagi diri mereka sendiri untuk menghadapi situasi yang berbeda beda.  
    Menurut Adi Sasono , dalam buku ”Leading to Revolution” dijelaskan adanya pertarungan atau kompetisi kekuatan yang sedang tumbuh antara kekuatan birokrasi dan formalitas pengetahuan yang sedang tumbuh dengan kekuatan yang didasarkan pada kreativitas dan jaringan. Yang cepat mengalahkan yang lambat, bukan yang besar mengalahkan yang kecil. Dunia pendidikan biasanya kurang menyadari keadaan ini, dibanding dengan dunia industri. Akibatnya produk pendidikan kalah cepat dengan kebutuhan industri, sehingga banyak sarjana yang menganggur. Dunia pendidikan lamban sekali perkembangannya, kecuali beberapa pendidikan tinggi yang menyadari perubahan tersebut.
    Bukan karena kesempatan tidak ada, tapi cara mencari kesempatan yang berbeda. Alumni perguruan tinggi yang tidak kreatif dan imajinatif kadang tidak berdaya menghadapi kenyataan hidup, dibanding orang biasa yang kreatif dan imajinatif. Inilah yang harus disadari karena ternyata power akan tergeser dari hierarki pengetahuan formal ke hierarki kreatifitas dan imajinasi. Hanya saja, kreatifitas dan imajinasi yang tinggi harus dibungkus dengan akhlak mulia sebagaimana tertuang dalam Quran dan sunnah. Diperlukan alumni yang mulham dengan ilmu hikmah. Inilah yang akan mengakselerasi power dan membuat alumni program dan jurusan ilmu agama yang sadar akan perlunya soft skills, pengembangan inner capacity, perlunya liberal arts education, pentingnya intre dan interpreunership misalnya, tidak akan kalah dibanding alumni prodi umum beken nan laris dari alumni perguruan tinggi atau fakultas yang kurang menyadari pentingnya memahami perubahan pesat yang sedang terjadi.

C. Pendidikan Karakter

    Ada dua bekal kompetensi keterampilan (Skills) yang perlu diberikan kepada setiap lulusan untuk membuat mereka dapat bersaing. Yang pertama disebut Hard skills yaitu kompetensi pengetahuan pada bidangnya pada prodi yang ia ambil (Knowledge of  Field) dan pengetahuan cara menggunakan serta seni memakai ilmu pada bidangnya tersebut (Knowledge of Technology) dan yang kedua disebut Character Education.
    Kata karakter asalnya dari bahasa yunani yaitu “charassein” yang maknanya mengukir sehingga terbentuk sebuah pola.  Proses pendidikan adalah proses “pengukiran”.dan “nurturing” atau bahasa kitab sucinya proses “rabbaniy”  yaitu pengukiran lewat proses pembiasaan, keteladanan, kedisiplinan dsb sehingga terbentuklah sebuah pola tingkah laku yang mulia. Kalau tidak, maka menurut Confucius manusia berubah menjadi binatang.
    Berikut ini pernyataan para pakar dan tokoh tentang pendidikan karakter ; People expect schools to not only make children smart but to make them good, to turn out good citizens and leaders. Character education has that expectation (Mussie Hailu). Education has for its object the formation of character (Herbert Spencer). To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society (Theodore Roosevelt). Intelligence plus character – that that is the true goal of education (Martin Luther King, Jr) . Character educatioan is the deliberate effort to develop virtues that are good for individual an good for society (Prof. Thomas Lickona). Good character is more to be praised than outstanding talent. Most talents are to some extent a gift. Good character, by contrast, is not given to us. We have to build it piece by piece – by thought, choice, courage and determination.”. (John Luther)  “character education is teaching students to know the good, love the good, and do the good. ”it is cognitive, emotional, an behavioral. It integrates head, heart, and hands. It places equal importance on all three”  ( Prof. Kevin Ryan)
Pendidikan Karakter selain yang tertuang pada awal makalah ini, adalah kompetensi yang berkaitan dengan hal-hal praktis yang dapat digunakan dalam hidup peserta didik untuk menghadapi situasi, kondisi, dan lokasi yang berbeda beda ; diantaranya adalah 1. Percaya adanya Tuhan dengan sadar, Logical Skills dan analytical Skills yang membuat mereka cerdas dan sholeh tidak gampang dipengaruhi oleh orang lain, yang muatannya dapat diambil diantaranya dari buku “retorika kaum bijak” susunan penulis. 2. Keterampilan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan menggunakan diantaranya materi retorika kaum bijak dimaksud dan muatan bacaan dalam buku “qiraah rasyidah” dan bacaan serupa lainnya” misalnya,  yang kemudian dapat membuat mereka menjadi bukan hanya baik dan sholeh tetapi dapat membuat mereka menjadi penganjur kebaikan dan peradaban. 3. Keterampilan yang membuat mereka mampu bekerja dengan motivasi yang sangat tinggi  secara mandiri (berdikari)/ (ability to work independently) sehingga mereka mendapat peluang untuk berkreasi, berinovasi, dan memproduksi karya-karya yang gemilang namun pada hal yang sama mereka juga dapat bekerja dalam suatu tim organisasi (tidak egois) /Ability to work independently dalam suatu tatanan/sistem yang teratur yang dapat mempengaruhi orang lain berbuat kebajikan dan tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain karena kecerdasannya memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk serta kemampuannya untuk menghargai waktu. Muatan materi yang ketiga ini juga dapat diperoleh dalam buku “retorika Kaum Bijak” serta “qiraah Rasyidah” dan semisalnya. Ketiga point di atas diharapkan dapat membuat mereka mampu mengembangkan diri mereka dan mereka lalu menjadi terpelajar (educated), dewasa ,dan tidak ke kanak-kanakan.
Pendidikan karakter dapat juga berupa “hidden curriculum” seperti time management, initiative, etika/integritas, kemampuan berpikir, kemauan belajar, komitmen, keinginan meraih sesuatu/motivasi, dorongan energi/semangat meluap luap, komunikasi lisan, kreatifitas/out of box thinking, kemampuan analisis, dapat mengatasi stress, management diri (self management)/ mengambil tanggung jawab (taking responsibility), problem solving, kerjasama dan gotong royong (cooperation), mudah beradaptasi dan bijak (adaptability/flexibility), team work, mandiri (self reliance/independence), mau mendengar (listening), Dll.
 “To carry out character education is to thoroughly implement the national principle of education and to serve the ultimate goal of raising the quality of the workforce. Character education emphasizes cultivating students’ innovative spirit and practical skills, transforming them into exemplary builders of socialism who will be well developed morally, intellectually, physically and artistically, with lofty ideals and a good sense of discipline (Lanqing : 307)

D.    Keagungan Akhlak 

    Dalam buku Attarbiyah wa al-Ta\'liim , penulisnya mengemukakan tiga alternatif dari tujuan pendidikan : 1) Untuk mempermudah mencari rezki  (kasbu al-Rizqi), 2) Demi untuk memperoleh ilmu pengetahuan (al-Ilmu), dan 3) Karakter serta akhlak mulia
    Kata akhlak yang terambil dari bahasa Arab dan biasa diartikan dengan tabiat, karakter, perangai, kebiasaan, dan agama, dalam kamus besar Bahasa Indonesia berarti "budi pekerti" atau "perilaku". Cobalah cermati ungkapan-ungkapan baik, Hadis, al-Qur\'an, maupun ungkapan-ungkapan bahasa Arab sebagaimana berikut.
    "Innama Buitstu Liutammiama makaarima al-akhlaaq"  (Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan karakter akhlak yang mulia). Dalam Hadis yang lain :" Albirru Husnu al-khuluqi", (Kebajikan itu pada kebaikan akhlak). Rasulullah sendiri langsung mendapat didikan dari Tuhan dengan menampakkan ketinggian akhlaknya dari sejak kecil hingga akhir hayatnya dengan firman Tuhan :Wa innaka la\'alaa khuluqin \'adhiem  (Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung). Nabi Muhammad s.a.w. memerintahkan umatnya untuk senantiasa meneladani Allah dalam semua sifat-sifatnya yang disebut Al-Asma\' ul Husna  (sifat-sifat yang terpuji) dengan anjuran yang bunyinya : "Takhallaquu bi akhlaaqi al-Llah "  ( Berakhlaklah dengan akhlaq Allah), dan ketika Aisyah ditanya mengenai akhlaq Rasulullah s.a.w., beliau menjawab :"Kaana khuluquhu al-Qur\'aan" (Budi pekerti Nabi s.a.w. adalah al-Qur\'an). Terakhir, ada ungkapan yang sangat terkenal yang bunyinya : " Innama al-umamu al-akhlaaqu maa baqiat. Wainhumu zahabat akhlaquhum zahabuu." (Sesungguhnya bangsa-bangsa akan tetap berjaya selama akhlak mereka tetap ada. Bila akhlak mereka telah tiada, maka merekapun akan sirna).
    Menurut Thaha Mahmud, ilmu akhlaaq adalah ilmu yang membahas tentang tingkah laku manusia, yang menerangi jalan bagi manusia untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan serta mengajak manusia untuk berpegang pada yang pertama dan melepaskan diri dari yang kedua, menjelaskan tentang tujuan dan pandangan hidup yang hendak dituju oleh manusia, memberikan batasan-batasan tentang komunikasi dalam pergaulan antara sesama manusia, dan menciptakan pada jiwa manusia suatu kecenderungan untuk memiliki keutamaan-keutamaan.
Ilmu al-Akhlaaq hua al-ilmu al-lazii yabhatsu fii suluuki al-naas wa yuniiru lana al-sabiil li altafrriiqi baina al-khairi wa al-syarri wa yad\'uu ila altamassuki biawwalihima wa al-takhallii \'an tsaaniihima wa yubayyinu alghayata almutslaa alllatii yanbaghi \'an naqshuda ilayhaa wa yuhaddidu al-alaaqaat fii muamalati alnnaasi ba\'dhuhum ba\'dhan wa yakhluqu fi al-nafsi waazi\'an bihadhdhiha \'ala ittibaa\'i al-fahdaail ( Thaha Mahmuud  1932 : 6)
    Menurut Nasih A. Ulwan, "Pendidikan Karakter" adalah suatu usaha yang sengaja dilakukan agar obyek didik memperoleh sekumpulan prinsip-prinsip budi pekerti, karakter yang mulia dan keutamaan-keutamaan perilaku dan perasaan, lalu terbiasa dengannya sejak dini sampai ia dewasa dan bergumul dengan kehidupan nyata.  
    Selanjutnya dipertanyakan apa kriteria, tolok ukur dan bentuk dari sikap yang dikategorikan berakhlak mulia. Sebelumnya perlu dijelaskan bahwa para ulama memberikan rumusan bahwa baik dan buruk dalam perilaku mestilah merujuk kepada ketentuan Tuhan. Apa yang dinilai baik oleh Tuhan, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya, tidak mungkin Tuhan menilai kebohongan sebagai kelakuan baik, karena kebohongan esensinya buruk.
    Itulah sebabnya mengapa sebagaimana dinyatakan di atas, manusia dianjurkan untuk meneladani dan berakhlaq dengan akhlak Allah dan apa yang tertuang dalam kitab suci, dengan sifat-sifat Allah yang disebut dengan al-asmaa ul-Husna, seperti pemaaf, aktif hidup, bijaksana, pengasih, penyayang, dan seterusnya.
    Aristotle mencoba membuat filsafat yang berkaitan dengan moral untuk dijadikan panduan umat manusia, Namun, perlu ditekankan bahwa pendidikan agama dan akhlak harus berjalan seiring karena agama merupakan ruh dari akhlak. Seorang filosof Jerman bernama Fichteh pernah berucap bahwa " akhlak tanpa agama adalah sia-sia".  Sementara Tokoh India ,Gandi menyatakan bahwa agama dan akhlak mulia adalah satu dan tidak dapat dipisah-pisahkan . Ibnu Miskawaih menjelaskan bahwa syariat agama merupakan faktor yang meluruskan karakter remaja, yang membiasakan mereka untuk melakukan perbuatan baik, sekaligus yang mempersiapkan diri mereka untuk menerima kearifan .
    Di Barat sering diartikulasikan bahwa "Anda boleh melakukan perbuatan apa saja selama tidak bertentangan dengan hak orang lain". Di dalam agama ditemukan anjuran akhlak yang bunyinya : "Anda hendaknya mendahulukan orang lain dari pada kepentingan Anda sendiri".
    Akhlak pada esensinya tidak dapat disamakan dengan etika. Kalau etika berkaitan dengan sopan santun antar sesama manusia, serta cenderung berkaitan dengan perilaku lahiriyah, maka akhlak mempunyai makna dan dimensi yang lebih luas, termasuk sikap batin maupun pikiran. Para pakar mencoba merumuskan tiga obyek dari akhlak. Pertama, Akhlak terhadap Tuhan;  Kedua, Akhlak terhadap diri sendiri dan sesama manusia, dan Ketiga, Akhlak terhadap lingkungan.
    Banyak kalangan penulis Timur Tengah yang menyatakan bahwa di antara sekian literatur tentang akhlak yang paling memiliki nilai yang sangat tinggi dan barharga adalah naskah klasik berbahasa Arab "Tahdzibu al-akhlaaq" oleh Ibnu Miskawaih (941-1030 M.) yang menurut para ahli merupakan buku text pertama tentang filsafat etika dan pendidikan karakter. Naskah ini telah diterjemahkan oleh Constantine K. Zurayk ke dalam bahasa Inggris dengan judul "The Refinement of Character" pada tahun 1968 dan dibuat syarahnya oleh Ibnu al-Khatiib pada tahun 1985 yang memberikan penilaian sebagai naskah  yang tertinggi nilainya di antara sekian naskah filsafat tingkat dunia tentang etika dan karakter.
    Sebuah silogisme dari Ibnu Miskawaih tentang pendidikan akhlak berbunyi sebagai berikut : " Setiap karakter dapat berubah. Apapun yang bisa berubah, itu tidak alami. Kalau begitu, tidak ada karakter yang alami." Setelah memberikan penjelasan yang cukup panjang, ia lalu menyimpulkan besarnya peranan, manfaat, dan pengaruh pendidikan terhadap obyek didik.
    Mengulangi sedikit paparan terdahulu, Menurut Ikhwaan al Safaa jiwa (ruh) adalah substansi spritual (memberi semangat), samawi (tanpa batas), yang dapat memancarkan cahaya, yang hidup, dan secara potensial mengetahui sesuatu, serta pada hakikatnya aktif. Nah, tujuan inti pendidikan adalah untuk membuat jiwa (ruh) mengaktualkan kemungkinan-kemungkinan potensi tersebut atau bagaimana mengeluarkan pengetahuan yang telah mendekam  dalam bentuk potensi diri ke bentuk perilaku (akhlak) dan sikap.  Dengan demikian substansi jiwa dapat menjadi baik, akhlak menjadi terpuji dan sempurna demi untuk persiapan hari kemudian yang abadi .

E.    Teknik Pembentukan Sikap dan Karakter 

    Berdasarkan pandangan beberapa pakar terkemuka tentang pendidikan, beberapa pokok pikiran sebagaimana  berikut kiranya layak untuk disimak untuk menjadi hal yang dapat dilakukan dalam rangkaian pembentukan sikap, karakter, dan akhlak mulia yang diharapkan.
E.1. Pembiasaan 
    Ungkapan dari pengalaman Dr.Asif F.Hadipranata, pakar psikologi UGM, sewaktu menjadi konselor di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) yang kisahnya sebagaimana diungkapkan dalam Republika (12 Juni 1996) dalam rangka pembentukan sikap lewat pembiasaan (al\'adat), kiranya bisa kita petik sebagai berikut :
    Pada saat itu diadakan lomba yang meliputi kebersihan, kejujuran, kerjasama, dan kepemimpinan antar sekolah. Sekelompok demi sekelompok siswa Taman Kanak-kanak peserta lomba tersebut dimasukkan secara bergiliran ke dalam suatu ruangan. Ruangan itu berisi berbagai alat permainan yang jumlahnya terbatas dan sejumlah kursi bagi penunggu giliran yang tidak kebagian mainan.
    Lantai ruangan itu sengaja dikotori dengan sobekan-sobekan kertas dan kotoran-kotoran lain. Disamping itu, disediakan juga sebuah kulkas berisi makanan dan minuman dengan harga yang telah dicantumkan di atasnya, serta uang receh bagi yang memerlukan kembalian.
    Ketika anak-anak Indonesia dimasukkan, mereka langsung berebut mainan tanpa mempedulikan kebersihan ruangan tersebut. Mereka bertengkar, bahkan ada yang sampai menangis. Saat mengambil makanan dan minuman, mereka juga berebut dan tidak membayarkan uang seperti harga yang tertera.
    Sedangkan anak-anak Jepang, begitu masuk ruangan,secara spontan mereka membersihkan ruangan tersebut bersama-sama. Setelah itu secara tertib mereka mendekati mainan-mainan yang ada, yang tidak kebagian duduk antre di kursi. Ketika mereka haus atau lapar secara tertib mereka mendekati lemari pendingin-satu demi satu melayani kebutuhannya sendiri dan membayarkan uang sesuai harga. Tentu saja pemenang lomba tersebut adalah anak-anak Jepang ini.
    Alasan mereka bersikap jujur ialah "Kalau kami tak membayar makanan yang kami ambil, maka paman (kata "paman" adalah sebutan anak-anak jepang kepada para pedagang) penjual akan rugi, dan kalau paman penjual rugi, maka mereka tidak akan bisa berdagang lagi. Nah, kalau suatu saat kami butuh makanan dan minuman lagi, kami harus beli dari siapa,coba ?"
    Demikianlah sikap rasa malu bersikap egois dapat ditumbuhkan dalam diri setiap peserta didik sejak dini, sejak masa kanak-kanak, bahkan sebagaimana pandangan Ibnu Sina, sejak masa memilih jodoh. Dengan menanamkan kesadaran bahwa apapun yang dilakukan seseorang, baik atau buruk, akan membawa dampak kepada diri sendiri dan orang lain.
E.2. Keteladanan (Values are caught)
    Qutub (: 221) menyebut keteladanan dalam bahasa Arab sebagai Qudwah. Teknik pendidikan karakter ini- meskipun sering terlupakan dalam diskursus pendidikan-  merupakan salah satu teknik yang efektif dan dapat membuahkan hasil gemilang. Al-Abrasyi (1964) menulis bahwa keteladanan merupakan faktor utama dalam membentuk kebiasaan.  Itulah sebabnya, maka Ibnu Sina menegaskan perlunya guru yang bertindak sebagai  mursyid  dan refrensi hidup peserta didik yang dapat diteladani . Manusia teladan terbesar dalam alam nyata adalah Nabi Muhammad s.a.w sendiri.
    Orang-orang Arab dalam masa jahiliahnya telah melihat pada diri Muhammad s.a.w. keistimewaan dan kemuliaan akhlaknya, sehingga beliau digelari " al-shaadiqu al-amiin"  (yang benar lagi amanah)
    Orangtua di rumah, guru di sekolah, dan pemuka masyarakat baik formal (atasan) maupun informal di masyarakat, adalah pendidik yang menanamkan benih-benih pertama karakter mulia serta sikap dan perilaku determinan dalam diri anak-didik.
    E.3.  Sentuhan Kalbu Melalui Kata Hikmah, Dialog 
    Di dalam menanamkan nilai-nilai, yang disentuh adalah rasa dan kesadaran manusia yang lebih dalam  yang letaknya tidak di otak, tapi di hati dan kalbu. Hal ini tentunya terkait dengan aspek afektif dan psikomotorik. Ada suatu hal yang menarik untuk diaktualkan kembali dalam kaitannya dengan pendidikan nilai untuk menyentuh kesadaran manusia yang lebih dalam setelah hilang dalam peredaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam; yaitu pelajaran  Almahfudhaat. yang berisi sentuhan akan nilai-nilai belajar, kebenaran, kejujuran, kesungguhan, kehormatan, kedisiplinan, penghargaan atas ilmu pengetahuan, dsb.yang tentunya laik untuk menumbuhkan sikap fleksibilitas, keterbukaan, ketegasan, pendangan ke depan, perrcaya diri, toleransi, kemandirian, dst. Pelajaran berupa amtsaal (perumpamaan), hikmah, dan ungkapan-ungkapan betul-betul dapat menyentuh hati secara sangat efektif.
    Manusia masa moderen sebenarnya amat sangat membutuhkan sentuhan sentuhan pendidikan nilai-nilai sufiistik dan falsafah hidup keagamaan yang lebih menyentuh. Oleh sebab itu, disarankan adanya seorang pendidik khusus yang menangani pendidikan nilai lewat teknik ini.
    E. 4. Kisah-kisah termasuk apa yang disebut “literature”
    Kisah-kisah yang mengandung nilai seperti Al-Qiraat al-Rasyiidah yang banyak beredar di Indonesia atau semisalnya diharapkan dapat membentuk kebiasaan dan karakter mulia dan agung. Kisah-kisah serupa didapati juga dalam bahasa Inggris yang dibuat oleh Aesop.  Nilai edukatif kisah al-Qur\'an bahkan telah ditulis menjadi sebuah desertasi Doktor. Kisah-pendek kurang lebih 5-10 menit tentu dapat diinkorporasikan dalam satu mata pelajaran tertentu atau dikisahkan sebelum penyajian topik inti suatu mata kuliah
    E.5. Kedisiplinan
    Sebenarnya, Kedisiplinan sangat efektif untuk membentuk sikap positif dikalangan peserta diddik. Hal ini erat kaitannya dengan ketegasan yang proporsional--tapi bukan kekerasan.
Tiga Prinsip Dasar    
    Semua teknik yang dikemukakan diatas menurut hemat penulis harus mengacu pada beberapa prinsip pokok sebagaimana tergambar dibawah ini :
1. Keterpaduan  ( education of the whole man)
    Prinsip ini merupakan hal yang sifatnya integral yang oleh Sayid Qutub dikatakan "Jismuhu (Al-Kaa\'in al-Basyariy) wa \'akluhu wa ruhuhu, hayaatuhu al-maaddiyah wa al-Ma\' nawiyyah,  yakni pendidikan yang menekankan keseimbangan antara pengembangan spritual-perasaan, intelek-rasional, dan jasmaniyah.
2. Kesinambungan dan holistik
    Ini dimaksudkan agar seseorang dapat dibuat terus menerus secara kuntinu meningkatkan kualitas diri, sesuai dengan prinsip life-long education yang akan menghasilkan life-long learning sebagaimana yang diakui oleh Drucker bahwa Post-capitalist society requires life-long learning atau Mina al-Mahdi ila al-Lahdi (pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat),  sehingga diharapkan akan terjadi pemeliharaan sikap, karakter, dan akhlak serta penumbuhan dan pendewasaan yang terus menerus.
3. Kesejalanan (sinkronisasi)
    Yang dimaksud di sini adalah adanya kesejalanan atau sinkronisasi antara apa yang diterima oleh peserta didik di sekolah dengan pandangan hidup serta apa yang terjadi pada keluarga dan masyarakat, sehingga tidak menimbulkan apa yang oleh Al-Bouty disebut sebagai Almujtama\' al-Mutanaqidh.. Di satu pihak moral, karakter, dan nilai akhlak diajarkan, di lain pihak diinjak-injak dalam praktek di tengah masyarakat.

STRATEGI DAN IMPLEMENTASI
    Kata kunci pertama dari strategi dan implementasi yang patut dilakukan di perguruan tinggi adalah pembiasaan sejak mahasiswa mendaftar ulang hendak masuk di perguruan tinggi dengan serentetan aturan dan implementasi aturan perjanjian dan sanksi jelas terukur dan tidak redundant tidak intrepretable. Sejak awal mahasiswa sudah disuguhi contract of expectation.
    Pendekatan yang dilakukan selayaknya merupakan pendekatan holistic (terintegrasi dan tersinkronisasi) dimana pengembangan karakter diintegrasikan dan diinterkoneksikan pada semua aspek yang ada dalam lingkungan perguruan tinggi.
    Untuk itu, perlu ada kolaborasi seluruh komponen yang ada di perguruan tinggi, mahasiswa, dosen, staff, para wali mahasiswa serta komunitas lainnya. Penerapan nilai-nilai di perguruan tinggi hendaknya sama penekanannya dengan bidang akademik pada umumnya. Model pendekatan dapat berupa dialog berperadaban, problem solving dan sentuhan kalbu. Model pembelajarannya dengan demikian sifatnya aktif dan sugggestopedik..


SIMPULAN DAN REKOMENDASI

    Demikianlah uraian singkat mengenai pendidikan karakter ini dikemukakan, dengan menambahkan  perlunya gaya dialogis dikembangkan dan pemberian pemahaman terhadap phenomena kehidupan dan pengambilan pelajaran dari apa yang sedang terjadi sehingga tercipta sentuhan sentuhan pada akal dan kalbu.
    Nilai-nilai pendidikan karakter yang hendak dijabarkan harus selaras dan serasi, tidak saling bertentangan. Disamping itu, diperlukan munculnya kelompok yang benar-benar menghayati nilai-nilai akhlak dan karakter yang agung serta aktif mengalirkan arus positif karena “loving the good” dalam masyarakat lingkungannya, sebagaimana diperlukannya pentahapan dalam sosialisasi nilai-nilai yang ingin ditularkan, dan pembiasaan dengan disiplin, serta persuasi ganjaran dan sanksi bila diperlukan.
    Terakhir, Direkomendasikan adanya semacam pusat kajian pendidikan karakter di perguruan tinggi dan perlu digaris bawahi bahwa dari para orang tua, orang dewasa, para dosen dan pegawai, pimpinan serta pemuka masyarakat merupakan unsur yang amat penting bagi penghayatan dan pengamalan nilai-nilai karakter. Wallahu a\'lam bishawaab.


DAFTAR PUSTAKA

Abuud, Abdul Ghani. Al-Fikru al-Tarbawiy \'Inda al-Ghazaliy, Cairo : Daar al-Fikri al-Arabiy, 1982.
Al-Bouthy, Said Ramadhan. Al-Islam wa Musykilaat al-Syabab, Maktabah Farisiy, 1393 H.
Al-Miskawaih, Abu Ali Ahmad. Tahdziibu al-akhlaaq wa Tathhiru al-a\'raaq (Tahqiiq Ibnu al-khatiib), Lebanon: Dar al-Kutub al-\'Ilmiyyah, 1398 H.
Arsyad, Azhar dkk. Memahami Kebahagiaan: Antara Impian dan Kenyataan, Makassar : Alauddin Press, 2006.
______.  al-Qiraah al-Ashriyyah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002.
______. Retorika Kaum Bijak: Media Pembangkit Motivasi dan Daya Hidup Serta Penanaman Nilai-Nilai dan Budi Luhur, Makassar: Yayasan Fatiya, 2005.
Ashraf, Syed Ali. New Horizons in Muslim Education. Great  Britain and Cambridge : Hodder and Stoughton, 1985.
Baharits, Adnan Hasan Salih. Masuuliyatu al-Abi al-Muslimi fi Tarbiyati al-waladi fi Marhalati al-Tufuulati, Jeddah :Darul Mujtama\', 1991.
Bremer, Sidney Newton. 366 Esai untuk Memotivasi Diri, Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen dengan PT Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta, 1993.
Colman, Dictionary of Psychology, Oxford Presss University, 2003.
Davidson, James Dale & Lord William Rees-Mogg. The Sovereign Individual: How to Survive and Thrive During the Collapse of the Welfare State. New York : Simon and Schuster. 1997.
Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin, Pembentukan Sikap dan Perilaku dalam Pendidikan Islam, Ujungpandang: Seminar Nasional Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin, 1997.
Goble, F and David Brooks. The Case for Character Education : The Role of the School in Teaching Values and Virtue, California : Studio 4, 1997.
Hamzah, Firyaal. Mausuu’ah Aqwaal Ma’tsuurah, Daar Usaamah, Omman, 2002.
Hultt, W. Moral and Character Education, Valdosta State University. 2000.
Ikhwaan al-shafa’, al-Rasa’il, vol. 1, Beirut, 1957.
Kiely, Robert. "Religion in (and out of) the University Curriculum"  in Journal of the American academy of Arts and Sciences. Spring . Religion and Education, 1988.
Lanqing, Li. Education for 1.3 Billion, Research Press 2004.
Lewis C. Henry, Best Quotations for All Occasions”, 1955 & 1957.
Mapuna, Hadi D. dkk. Dulu IAIN Kini UIN Alauddin, Alauddin Press, Makassar : 2005.
Marun, Yusuf. Qaamuus al-Hikam wa al-Amtsaal wa al-Aqwaal al-khalidah :Qatharaat min Yanaabii al-Fikri al-Alamiy, terbitan al-Muassasah al-Haditsah li al-Kitaab, Tripoli, Libanon, 1996.
Megawangi, Ratna. Pendidikan Karakter: Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa, Jakarta: Indonesia Heritage Foundation, 2007.
Nashiif , Emiil. Arwa’u Maa Qiila fi al-Amtsaal, Daaru al-Jail, Beirut, 2005.
Nasr,  Seyyed Hossein. Traditional Islam in the Modern World, Kegan Paul International, London : 1994.
Qutb, Muhammad. Minhaju al-Tarbiyyah al-Islamiyyah. Cairo : Dar al-Syuruuq, tt.
Republika. , Harian Nasional. "Berhenti bersikap Egoistis" oleh Dwijuwono (tanggal 12 Juni 1996).
Richard W. Pound Fitzhenry & Whiteside, High Impact Quotations, Fawcwtt World Library, New York, Markham, Ontario, 2004,
Ryan, Bohlin, Karen D. Farmer, Kevin. Building Character in Schools : Resource Guide, California : Jossey Bass, 2001.
Smith, Huston. Essays on World Religions.  New York : The New American Library, 1992.
Syihab, Quraish. Wawasan al-Qur\'an, Bandung : Mizan, 1998.
______. Secercah Cahaya Ilahi, Bandung: Mizan, 2000.
Thaha Mahmuud, Muhammad, Duruusu al-Akhlaaq, Cairo : Mathba\'ah al-Ma\'ahid, 1932.
‘Ukawiy, Rihab. Diywaanu dan Syarhu Diywaanu al-Imaam al-Syafiiy, Daru al-Fikri al-Arabiy, Beirut, 1992.
\'Ulwaan, Nasih  Abdullah. Tarbiyatul Awlaad fi al-Islaam, Cet.XXI , Jilid I, Jeddah: Daarussalaam, 1992.
Yunus, Mahmud.  Attarbiyatu wa al-Ta\'liim, Jilid 1, Padang Panjang : Al-Maktabah al-Sa\'diyah, 1942.
Zurayk, Constantine K. 1968. The Refinement of Character, Beirut: The American

Sumber: Website resmi UIN Alauddin Makassar.

Don't Miss



comments

0 comments:

Post a Comment