13 Mar 2014

Dipuji kok istighfar?

Dipuji kok istighfar?

Untuk mengatasi suatu masalah haruslah diketahui terlebih dahulu penyebab masalah itu bisa emerging.  Begitu pula lah gambaran terkait cara memperbaiki diri; harus diketahui dulu apa kekurangan pada diri ini. Sayang, biasanya agak sulit jika diri kita sendiri yang mencari kekurangan kita. Begitu pula orang yang baik disekeliling kita biasanya jarang mengkritik kekurangan kita. Bisa dikatakan mereka tidak ingin mengatakan apa kekurangan kita karena sifat baiknya yang bisa menerima diri ini -yang tak pernah lepas dari kekurangan; kalimat singkatnya menerima diri kita apa adanya.

Jika pencarian kekurangan diri diyakini kurang tepat dari diri sendiri atau pun dari orang baik disekeliling kita, maka pandangan boleh saja ke orang yang suka "mengkritik"; atau mungkin lebih parahnya lagi ke orang yang suka memberi tahu kejelekan kita -yang mungkin kita katakan orang yang kurang serek dengan kita. Waktu masih anak-anak namanya "orang yang bombe kita." Ups hati-hati saya tidak sedang membicarakan orang menjelek-jelek kan diri kita di belakang (memfitnah). Jika terkait fitnah itu beda lagi jalurnya; tidak dalam topik ini.

Pernah seorang dosen bertanya dalam kelas saya terkait cara pandang saya dan teman-teman sekelas ketika dipuji dan dihina. Jawaban kami tentu saja berbeda-beda. Termasuk saya yang berkata ketika dipuji saya "Alhamdulillah" dan ketika di hina "Astagfirullah" atau tak usah dipeduli. Sang dosen melanjutkan pembicaraannya. Dia berkata jika kita dipuji itu seharusnya bersedih [memohon ampun] dan jika dihina bersyukur. Wah, tentu saja kening seakan menolak. Dihina kok senang; dipuji kok istigfhar. Sang dosen kemudian berkata itulah ajaran *sufi.* "Waduh, Sufi? Pantas saja beda dengan jawaban saya. Saya kan bukan orang yang ibadahnya mantap. Jangankan sufi shalat sunnnah dhuha saja syukur bisa sempat beberapa hari," jawabku dalam hati.

 Setelah perkuliahan -karena tipe saya yang kurang senang salah, tidak mau kalah, keras kepala, sok- saya berusaha mencari-cari penyebab kenapa para sufi ketika dipuji sedih dan ketika dihina malah senang. Akhirnya ketemu juga. Kita memohon ampun ketika dipuji karena orang yang memuji kita tidak lebih tahu tentang diri kita; kita lebih mengenal diri kita sendiri. Mereka -yang memuji kita- bisa jadi tidak tahu kekurangan kita & biasanya memang belum tahu kekurangan kita. Jika mereka tahu kekurangan kita, yakin dia sungkan memuji.

Sebaliknya terkait rasa syukur ketika dihina. Ini tentu saja tidak membuat saya berhenti bertanya. Dihina kok bersyukur. Sebenarnya mudah saja menjawabnya. Boleh saja kita berkata lebih baik dihina daripada menghina. Juga ketika dihina itu berarti kita harus memaafkan -yang menjadi sifat yang sangat mulia, walau tak bisa di-nafikkan kalau memaafkan itu bukan perkara yang mudah. Tapi, tidak yang pertama atau pun jawaban yang ke dua yang muncul dalam benak saya. Hati ini berkata memang diri ini seharusnya bersyukur karena sungguh kita (bisa) lebih baik dari hinaan itu. Diri ini bisa bangkit karena cemoohan yang ditujukan ke diri kita. Paling tidak kita punya poin yang bisa jadi titk fokus kita dalam memperbaiki diri.

Sekarang tinggal kita saja yang pilih, senang dipuji dan benci terhadap orang yang menghina kita atau memohon ampun ketika dipuji agar tidak lupa diri -yang bisa saja membuat diri sombong- dan tersenyum ketika ada hinaan yang (maaf) menampar wajah ini.

Don't Miss



comments

0 comments:

Post a Comment